Kecanduan Game Sebagai Masalah Kesehatan Menurut WHO

Organisasi Kesehatan Dunia Tetapkan Kecanduan Game Sebagai Masalah Kesehatan

Pada awal tahun 2018 lalu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memasukkan kecanduan bermain game ke dalam draft "kamus penyakit" yang mengkategorikan sebagai penyakit mental. Kini draft tersebut telah disahkan dan kecanduan bermain game resmi menjadi salah satu masalah kesehatan di dunia.

WHO memasukkan kecanduan game sebagai salah satu kategori penyakit paling umum yang terjadi di dunia. WHO menyebut kecanduan bermain game sebagai "gaming disorder" yang memperlihatkan perilaku menyimpang dari para penderitanya.

Gaming disorder oleh WHO digambarkan sebagai perilaku bermain game dengan gigih dan berulang, sehingga menyampingkan kepentingan hidup lainnya.

Gangguan permainan ini juga didefinisikan sebagai perilaku yang tidak terkontrol, di mana seorang pemain tidak dapat berhenti bermain game meskipun itu berdampak negatif terhadap kehidupan dan kesehatan mereka.

WHO menyebutkan beberapa contoh kasus yang membuat mereka semakin yakin bahwa kecanduan game adalah perilaku yang menyimpang dan termasuk dalam gangguan mental.

Beberapa kasus itu di antaranya adalah dua remaja bunuh diri setelah pemerintah India melarang masyarakatnya bermain game PUBG, gadis berusia sembilan tahun yang harus dikirim ke rehabilitasi setelah menghabiskan 10 jam untuk bermain Fortnite dan 200 kasus perceraian yang disebabkan oleh bermain game.

Tak hanya itu, sebuah laporan dari Nikkei pun mengatakan bahwa di Jepang, ada sebanyak 930.000 siswa sekolah yang terkena dampak kecanduan bermain game ini. Angka ini melonjak dua kali lipat sejak lima tahun terakhir.

Dikutip dari TechSpot, negara-negara yang menjadi anggota WHO juga diminta agar mengantisipasi dan melakukan tindakan pencegahan sebelum klasifikasi ini mulai berlaku pada Januari 2022 mendatang.

Kendati demikian, tidak semua pihak setuju disahkannya kecanduan bermain game sebagai salah satu masalah kesehatan. Pasalnya menurut sejumlah pakar kesehatan, keputusan ini justru meningkatkan risiko terjadinya salah diagnosis.

Selain itu, para pelaku dari industri game pun meyakini bahwa masih banyak game yang tidak bertentangan dengan kesehatan. Mereka menolak keputusan yang menyandingkan kecanduan bermain game disamakan dengan kecanduan narkoba.