Hubungan antara Olahraga dan Depresi

Hubungan antara Olahraga dan Depresi

Menjaga badan tetap sehat dan bugar sudah menjadi suatu kewajiban apalagi di tengah kesibukan setiap harinya. Namun juga harus di imbangi dengan pola makan dan pola tidur yang teratur dan seimbang.

Berkeringat mampu membuat tubuh memproduksi endorfin alias hormon yang membangkitkan rasa bahagia.

Seseorang yang ikut dalam komunitas olahraga - seperti klub lari - bisa saja mendapatkan dorongan dari persahabatan. Ini adalah hal yang dapat meringankan gejala depresi.

Selama ini, olahraga juga diklaim mampu mengatasi obesitas dan peradangan, karena olahraga akan meningkatkan kekebalan tubuh seseorang. Tak heran bila orang yang rajin berolahraga, umumnya juga lebih tahan menghadapi penyakit.

Peradangan kronis merusak jaringan, dan bisa diatasi dengan memanfaatkan sistem kekebalan tubuh, misalnya untuk penyembuhan cedera.

Jadi, sebaiknya kita tetap rajin berolahraga dan mengonsumsi makanan yang mengandung anti-inflamasi. 

Bahan makanan anti-inflamasi bisa kita dapatkan dalam menu diet mediterania, yang menerapkan pola makan kaya sayuran hijau, minyak zaitun, ikan, kacang-kacangan dan biji-bijian.

Diet mediterania juga diklaim mampu mengatasi depresi. Hal tersebut merupakan kesimpulan dalam sebuah penelitian ilmiah yang menganalisis 41 studi tentang diet ini.

Hasil riset menemukan hubungan antara praktik diet dan peluang manusia untuk mengalami  depresi.

Mereka yang melakukan diet mediterania ternyata 33 persen kemungkinannya  lebih rendah untuk menderita depresi, dibandingkan dengan mereka yang tidak mempraktikan diet ini.

"Ada bukti kuat menunjukkan hubungan antara kualitas diet dan kesehatan mental," kata Camille Lassale, salah satu periset.

Hubungan ini melampaui efek diet pada ukuran tubuh, atau aspek lain dari kesehatan, yang pada gilirannya mempengaruhi suasana hati.

"Mengonsumsi makanan penyebab peradangan dapat menginduksi peradangan sistemik, dan ini secara langsung dapat meningkatkan risiko depresi," kata Lassale.