Cara Menangani dan Gejala Gangguan Mental pada Anak

Cara Menangani dan Gejala Gangguan Mental pada Anak

Tingkah laku anak-anak memang kadang tidak mudah di kendalikan dan tidak tertebak bahkan oleh orang tuanya sendiri.

Si kecil yang baru berusia 2 tahun sedang tantrum dan itu bisa berlangsung lebih dari satu jam. Mainannya dilempar ke segala penjuru, ia menangis keras, setiap didekati ia akan memukul atau menggigit.

Anak nangis dan mengamuk memang tipikal perilaku balita. Tapi, apakah normal jika tantrumnya sering muncul dan sulit dibuat tenang?

Anak Anda yang sudah bersekolah SD tidak mau berangkat sekolah. Tiap hari ia pulang dengan wajah sedih dan menangis. Setiap pagi ia memohon untuk bisa tinggal di rumah dan matanya terlihat panik.

Apakah ia hanya anak yang tidak mau ke sekolah atau mengalami gejala kecemasan?

Tidak dikenali
Masalah mental pada anak-anak, seperti stres, kecemasan, atau depresi adalah sesuatu yang nyata. Namun, banyak anak yang tidak mendapatkan perawatan yang seharusnya.

"Banyak orangtua yang tidak bisa mengenali perilaku tertentu merupakan tanda dari gangguan mental dan bukan sekadar perasaan 'sedih' atau sedang 'grogi'," kata psikolog anak Danielle Rannazzisi, Ph.D.

Di negara maju seperti AS pun, banyak orangtua yang takut mengajak anaknya ke psikiater. Konotasi negatif yang melekat pada penyakit mental membuat banyak orang tidak mau mengakui jika memang butuh perawatan.

Menurut dokter anak Marian Earls, beberapa gangguan mental seperti gangguan tumbuh kembang memang sudah ditangani, seperti ADHD (gangguan pemusatan perhatian dan perilaku).

Earls menjelaskan, setiap gangguan perkembangan mental harus bisa dikenali dan diterapi sedini mungkin.

"Orangtua berperan penting dengan mengenali gejalanya dan berkonsultasi ke dokter anak atau psikiater," katanya.

Berikut adalah beberapa gejala gangguan mental pada anak yang perlu diwaspadai:
  • Perubahan mood yang signifikan, termasuk mood negatif yang mentap atau mood sering berubah-ubah.
  • Perubahan perilaku yang signifikan, misalnya anak yang tadinya pintar tapi belakangan nilai-nilai ulangannya selalu buruk.
  • Rasa cemas dan takut yang nyata.
  • Kehilangan minat pada teman, objek, dan aktivitas yang semula ia sukai.
  • Sulit konsentrasi.
  • Tidak mau merawat diri (menjaga kebersihan diri).
  • Sulit berteman.
  • Gangguan fisik seperti sakit kepala, sakit perut, perubahan nafsu makan, dan berat badan mendadak turun atau naik.
  • Perilaku melukai diri.
  • Penggunaan bahan-bahan yang berbahaya seperti narkoba atau rokok.

Waspadai jika perilaku dan gejala tersebut menetap lebih dari seminggu atau pun mengganggu fungsi keseharian anak.